Katanya, yang namanya sabar, yang namanya ikhlas, dalam menerima cobaan itu ya ndak usah dibahas-bahas. Ndak perlu diumbar. Ndak perlu di-update ke dalam status sosmed.
Ketika dikatakan bahwa sabar itu tidak berbatas, terkadang muncul pertanyaan, "Aku kudu sabar koyo piye meneh?". Dan kemudian saya sadar, itu adalah bisikan setan.
Dasar, setan! Pinternya dia menyelinap masuk ke rongga dada pas saya lagi galau-galaunya.
Jadi, Bapak saya sakit.
Sebenernya, itu sudah bukan lagi cerita lama.
Saya, dan Ibuk saya -- terlebih sejak Ibuk saya menjadi istri dari Bapak saya, sudah terbiasa dengan keadaan Bapak saya yang bisa dikatakan sering sakit-sakitan.
Dan memang, Simbah Putri saya pernah bilang, kalau dari kecil, Bapak saya memang sering sakit-sakitan.
Yang saya ingat, dari saya kecil sampai sekarang. Bapak saya sudah 4 kali masuk rumah sakit.
Pertama, ketika saya SD kelas tiga atau kelas empat, saya lupa. Yang pasti, waktu itu Bapak Ibu guru saya di sekolah sampai datang ke rumah sakit untuk membesuk Bapak saya -- kayaknya sih Ibu Bapak Guru saya ini salah info. Karena dikira saya yang sakit. Pas sampai rumah sakit, saya malah asik mainan sendiri di kamar tempat Bapak saya rawat inap. Kamar Bapak saya luas. Luas banget pun. Ada kamar mandi dalam, ada dapur, pantry, tivi, sofa. Semacam hotel kan?
Tidak ada tindakan medis serius untuk Bapak saya waktu itu. Indikasinya, ada sesuatu di kepala Bapak saya sehingga harus dibedah. Satu tim dokter sudah siap. Dokter jantung, internist, anestesi, semuanya. Tapi, tidak jadi eksekusi karena Bapak saya takut operasi, hahaha..
Kedua, ketika saya SMP. Saya lupa saya kelas berapa. Yang pasti, siklus Bapak saya sakit itu musiman, setiap empat sampai lima tahunan sekali -- Iya, dalam hati saya sendiri, saya sampai sudah menghitung siklus kapan Bapak kemungkinan sakit dan masuk rumah sakit lagi. Iya, mungkin saya sudah terlalu kurang ajar kalo sampai berpikir demikian. Maaf ya, Pak.
Kali ini dirawat di rumah sakit swasta. Islami. Ruangan Bapak saya kali kedua ini, memang tidak sebesar waktu Bapak opname kali pertama. Tapi tetap saja, kamarnya bagus. Di gedung rumah sakit yang baru dibangun -- jadi kamarnya adalah kamar perdana. Bapak saya yang nempatin pertama kali x)
Lagi-lagi, tidak ada tindakan medis serius kepada Bapak saya. Dan saya pun heran, kenapa Bapak saya musti opname dengan biaya sekian juta kalo cuman untuk "numpang tidur" saja?? Begitu pikir saya.
Ketiga. Kali ini, rentang waktunya meleset. Lebih lama dari dugaan saya. Tapi ya, hampir lima tahunan juga. Bapak saya kembali masuk rumah sakit, pas saya diterima dan sudah kuliah semester satu di fakultas teknik. Kali ini serius. Bapak saya udah nyerah. Ndak kuat sama penyakitnya, katanya.
Dan, sejak saat itu, saya mulai takut kalo Bapak saya kenapa-napa. Sejak saat itu juga, saya mau Bapak saya sehat. Sampai besok saya dinikahkan dengan lelaki yang akan jadi suami saya. Saya mau, yang jadi wali nikah saya adalah Bapak saya sendiri. Bukan saudara Bapak saya. Maupun sepupu laki-laki dari Bapak saya.
Kali ini, Bapak saya dioperasi. Operasi besar, kata dokternya. Karena ternyata, usus buntu Bapak saya sudah pecah. Ha? Lha kok bisa?
Ternyata, setelah didesak, Bapak saya cerita kalo kemarin lalu sempat jatuh dari sepeda -- bukan sepeda motor -- sepulangnya Bapak dari Boyolali.
Iya, sejak keluar dari rumah sakit kali kedua, Bapak saya mulai rajin olahraga dengan bersepeda. Jaraknya jauh. Dari rumah saya sampai rumah Mbahti disana. Sekalian ngawasi tukang, katanya. Adek sepupu saya -- keponakan Bapak saya; waktu itu mulai persiapan untuk membangun rumah. Jadilah Bapak saya yang ikutan sibuk dengan segalanya.
Saya ingat, sepanjang operasi berjalan, cuman saya dan Ibuk, serta Bulek -- adek Bapak saya; yang menunggu diluar ruang operasi. Deg-degan pasti.
Selepas operasi, Bapak saya jadi lebih sering disuntik. Sering sekali. Barulah saya tau kalo itu namanya insulin. Sampai pulang ke rumah pun, perawat masih datang untuk sekedar menyuntikkan insulin ke badan Bapak saya. Sampai kemudian saya berani menyuntikkan insulin itu ke badan Bapak saya sendiri.
Terlepas dari itu semua, ketika Bapak saya sakit, Ibuk saya yang super sibuk. Bukan sibuk bekerja, tapi menyiapkan segalanya demi kesehatan Bapak saya. Alhamdulillah, pekerjaan Ibu saya tidak terlalu terikat dengan jam kantor. Kalo memang iya, tidak sepenuhnya harus di kantor sampai sore. Hanya jam-jam tertentu saja.
Yang pasti, gantian. Karena kami cuman bertiga. Ketika Ibuk saya harus ke kantor, saya yang nunggu Bapak. Ketika saya ada kuliah, Ibuk saya yang dirumah. Begitu terus, dari ketika masih di rumah sakit, sampai di rumah.
Selama Bapak sakit dan rawat inap di rumah sakit, Ibuk selalu memilih kamar yang isi pasiennya ya cuman Bapak sendiri. Karena Ibuk saya tau, kalo Bapak pasti akan cepet sembuh kalo lingkungan sekitarnya "nyaman", dan yang pasti tidak banyak orang yang berlalu lalang di dalam kamar. Hanya kami-kami saja. Begitu terus sampai kali ketiga.
Berapa uang yang habis? Jangan ditanya. Banyak. Terlebih Bapak saya ada riwayat gula.
Tapi, apapun demi Bapak saya sehat.
Terakhir, minggu lalu. Bapak saya kembali masuk rumah sakit. Kali ini, bukan saya maupun Ibu saya yang memasukkan Bapak kesana. Tapi keponakannya -- adek sepupu saya sendiri.
Memang, sebulan ini kondisi Bapak tidak stabil. Muntah terus. Tapi, Bapak saya masih bisa minum sirup pake es. Tengah malam, pula. Entahlah. Itu Bapak saya.
Sampai kemudian saya dapat kabar kalo Bapak saya rawat inap disana. Alasan adek saya, biar Bapak saya dapat cairan infus. Okelah. Terserah.
Begitu mendapat kabar bahwa Bapak saya rawat inap, sepulang dari Jogja, saya langsung ke Boyolali.
Kasian Bapak saya, ditaruh di ruangan seperti itu. Sudahlah lampu ndak terang. Jendela pun ndak bisa dibuka. Ndak nyaman pula! Piye Bapakku arep cepet mari??
Akhirnya, malam itu cuman saya sendiri yang menemani Bapak di rumah sakit. Ibuk saya kebetulan juga sakit. Andai saya punya sodara. Baru kali ini rasanya saya bener-bener pengin punya adek laki-laki. Badan dan separuh pikiran ada di rumah sakit. Sementara pikiran saya yang lain ada di rumah. Gila!
Kalo sudah begini, banyak setan yang masuk ke pikiran saya. Isinya suudzon saja.
Kadang, saya mikir, pas Bapak saya lagi sehat-sehatnya, Bapak saya pergi kesana kemari. Yang sibuk ngurusin keponakannya (laki-laki) masuk PNS lah. Ngurusin ponakannya (laki-laki, lagi) mau masuk ABRI lah. Ngurusin bangun rumah lah. Nyari kayu lah. Nyari tukang lah. Apapun semua buat adek sepupu saya.
Terus, pas Bapak saya lagi sakit-sakitnya begini, giliran saya sama Ibuk yang ngurus Bapak. Adalah adek Bapak saya. Tapi, yang tetep ngurus dirumah kan saya sama Ibuk saya juga. Terus, dimana sepupu saya yang laki-laki?
Mungkin dia kan ada keluarganya yang nunggu di rumah (rumahnya udah jadi, btw). Saya tau, dia seorang suami dan seorang Bapak. Tapi, mosok ya dia tega, begitu tau mbakyu sepupunya yang umurnya lebih muda, sendirian di rumah sakit?? *makanya jangan ngarep, din. Sakit kan??
Tapi, yang sakit ini Pakdenya lho. Pakde yang udah bantuin segala macam buat dia lho. Pakde yang seharusnya ndak sebegitunya juga bantuin ponakan (laki-laki, apalagi) -- yang seharusnya jadi tanggung jawab Bapak mereka sendiri (ini yang penting, Bapak kandungnya aja masih hidup kok)
Sudahlah. Capek kalo marah-marah. Marah dalam hati apalagi.
Dasar, setan! Pinternya dia bikin saya kesetanan. Astagfirullah.
Sekarang, alhamdulillah Bapak saya sudah dirumah. Sudah ndak dirumah sakit yang (menurut saya) tidak mendukung pasiennya untuk sembuh dari sakit. Walaupun kondisinya belum sepenuhnya pulih.
Tulisan lama yang sudah 3 tahun hanya jadi draft saja.
Ketika dikatakan bahwa sabar itu tidak berbatas, terkadang muncul pertanyaan, "Aku kudu sabar koyo piye meneh?". Dan kemudian saya sadar, itu adalah bisikan setan.
Dasar, setan! Pinternya dia menyelinap masuk ke rongga dada pas saya lagi galau-galaunya.
Jadi, Bapak saya sakit.
Sebenernya, itu sudah bukan lagi cerita lama.
Saya, dan Ibuk saya -- terlebih sejak Ibuk saya menjadi istri dari Bapak saya, sudah terbiasa dengan keadaan Bapak saya yang bisa dikatakan sering sakit-sakitan.
Dan memang, Simbah Putri saya pernah bilang, kalau dari kecil, Bapak saya memang sering sakit-sakitan.
Yang saya ingat, dari saya kecil sampai sekarang. Bapak saya sudah 4 kali masuk rumah sakit.
Pertama, ketika saya SD kelas tiga atau kelas empat, saya lupa. Yang pasti, waktu itu Bapak Ibu guru saya di sekolah sampai datang ke rumah sakit untuk membesuk Bapak saya -- kayaknya sih Ibu Bapak Guru saya ini salah info. Karena dikira saya yang sakit. Pas sampai rumah sakit, saya malah asik mainan sendiri di kamar tempat Bapak saya rawat inap. Kamar Bapak saya luas. Luas banget pun. Ada kamar mandi dalam, ada dapur, pantry, tivi, sofa. Semacam hotel kan?
Tidak ada tindakan medis serius untuk Bapak saya waktu itu. Indikasinya, ada sesuatu di kepala Bapak saya sehingga harus dibedah. Satu tim dokter sudah siap. Dokter jantung, internist, anestesi, semuanya. Tapi, tidak jadi eksekusi karena Bapak saya takut operasi, hahaha..
Kedua, ketika saya SMP. Saya lupa saya kelas berapa. Yang pasti, siklus Bapak saya sakit itu musiman, setiap empat sampai lima tahunan sekali -- Iya, dalam hati saya sendiri, saya sampai sudah menghitung siklus kapan Bapak kemungkinan sakit dan masuk rumah sakit lagi. Iya, mungkin saya sudah terlalu kurang ajar kalo sampai berpikir demikian. Maaf ya, Pak.
Kali ini dirawat di rumah sakit swasta. Islami. Ruangan Bapak saya kali kedua ini, memang tidak sebesar waktu Bapak opname kali pertama. Tapi tetap saja, kamarnya bagus. Di gedung rumah sakit yang baru dibangun -- jadi kamarnya adalah kamar perdana. Bapak saya yang nempatin pertama kali x)
Lagi-lagi, tidak ada tindakan medis serius kepada Bapak saya. Dan saya pun heran, kenapa Bapak saya musti opname dengan biaya sekian juta kalo cuman untuk "numpang tidur" saja?? Begitu pikir saya.
Ketiga. Kali ini, rentang waktunya meleset. Lebih lama dari dugaan saya. Tapi ya, hampir lima tahunan juga. Bapak saya kembali masuk rumah sakit, pas saya diterima dan sudah kuliah semester satu di fakultas teknik. Kali ini serius. Bapak saya udah nyerah. Ndak kuat sama penyakitnya, katanya.
Dan, sejak saat itu, saya mulai takut kalo Bapak saya kenapa-napa. Sejak saat itu juga, saya mau Bapak saya sehat. Sampai besok saya dinikahkan dengan lelaki yang akan jadi suami saya. Saya mau, yang jadi wali nikah saya adalah Bapak saya sendiri. Bukan saudara Bapak saya. Maupun sepupu laki-laki dari Bapak saya.
Kali ini, Bapak saya dioperasi. Operasi besar, kata dokternya. Karena ternyata, usus buntu Bapak saya sudah pecah. Ha? Lha kok bisa?
Ternyata, setelah didesak, Bapak saya cerita kalo kemarin lalu sempat jatuh dari sepeda -- bukan sepeda motor -- sepulangnya Bapak dari Boyolali.
Iya, sejak keluar dari rumah sakit kali kedua, Bapak saya mulai rajin olahraga dengan bersepeda. Jaraknya jauh. Dari rumah saya sampai rumah Mbahti disana. Sekalian ngawasi tukang, katanya. Adek sepupu saya -- keponakan Bapak saya; waktu itu mulai persiapan untuk membangun rumah. Jadilah Bapak saya yang ikutan sibuk dengan segalanya.
Saya ingat, sepanjang operasi berjalan, cuman saya dan Ibuk, serta Bulek -- adek Bapak saya; yang menunggu diluar ruang operasi. Deg-degan pasti.
Selepas operasi, Bapak saya jadi lebih sering disuntik. Sering sekali. Barulah saya tau kalo itu namanya insulin. Sampai pulang ke rumah pun, perawat masih datang untuk sekedar menyuntikkan insulin ke badan Bapak saya. Sampai kemudian saya berani menyuntikkan insulin itu ke badan Bapak saya sendiri.
Terlepas dari itu semua, ketika Bapak saya sakit, Ibuk saya yang super sibuk. Bukan sibuk bekerja, tapi menyiapkan segalanya demi kesehatan Bapak saya. Alhamdulillah, pekerjaan Ibu saya tidak terlalu terikat dengan jam kantor. Kalo memang iya, tidak sepenuhnya harus di kantor sampai sore. Hanya jam-jam tertentu saja.
Yang pasti, gantian. Karena kami cuman bertiga. Ketika Ibuk saya harus ke kantor, saya yang nunggu Bapak. Ketika saya ada kuliah, Ibuk saya yang dirumah. Begitu terus, dari ketika masih di rumah sakit, sampai di rumah.
Selama Bapak sakit dan rawat inap di rumah sakit, Ibuk selalu memilih kamar yang isi pasiennya ya cuman Bapak sendiri. Karena Ibuk saya tau, kalo Bapak pasti akan cepet sembuh kalo lingkungan sekitarnya "nyaman", dan yang pasti tidak banyak orang yang berlalu lalang di dalam kamar. Hanya kami-kami saja. Begitu terus sampai kali ketiga.
Berapa uang yang habis? Jangan ditanya. Banyak. Terlebih Bapak saya ada riwayat gula.
Tapi, apapun demi Bapak saya sehat.
Terakhir, minggu lalu. Bapak saya kembali masuk rumah sakit. Kali ini, bukan saya maupun Ibu saya yang memasukkan Bapak kesana. Tapi keponakannya -- adek sepupu saya sendiri.
Memang, sebulan ini kondisi Bapak tidak stabil. Muntah terus. Tapi, Bapak saya masih bisa minum sirup pake es. Tengah malam, pula. Entahlah. Itu Bapak saya.
Sampai kemudian saya dapat kabar kalo Bapak saya rawat inap disana. Alasan adek saya, biar Bapak saya dapat cairan infus. Okelah. Terserah.
Begitu mendapat kabar bahwa Bapak saya rawat inap, sepulang dari Jogja, saya langsung ke Boyolali.
Kasian Bapak saya, ditaruh di ruangan seperti itu. Sudahlah lampu ndak terang. Jendela pun ndak bisa dibuka. Ndak nyaman pula! Piye Bapakku arep cepet mari??
Akhirnya, malam itu cuman saya sendiri yang menemani Bapak di rumah sakit. Ibuk saya kebetulan juga sakit. Andai saya punya sodara. Baru kali ini rasanya saya bener-bener pengin punya adek laki-laki. Badan dan separuh pikiran ada di rumah sakit. Sementara pikiran saya yang lain ada di rumah. Gila!
Kalo sudah begini, banyak setan yang masuk ke pikiran saya. Isinya suudzon saja.
Kadang, saya mikir, pas Bapak saya lagi sehat-sehatnya, Bapak saya pergi kesana kemari. Yang sibuk ngurusin keponakannya (laki-laki) masuk PNS lah. Ngurusin ponakannya (laki-laki, lagi) mau masuk ABRI lah. Ngurusin bangun rumah lah. Nyari kayu lah. Nyari tukang lah. Apapun semua buat adek sepupu saya.
Terus, pas Bapak saya lagi sakit-sakitnya begini, giliran saya sama Ibuk yang ngurus Bapak. Adalah adek Bapak saya. Tapi, yang tetep ngurus dirumah kan saya sama Ibuk saya juga. Terus, dimana sepupu saya yang laki-laki?
Mungkin dia kan ada keluarganya yang nunggu di rumah (rumahnya udah jadi, btw). Saya tau, dia seorang suami dan seorang Bapak. Tapi, mosok ya dia tega, begitu tau mbakyu sepupunya yang umurnya lebih muda, sendirian di rumah sakit?? *makanya jangan ngarep, din. Sakit kan??
Tapi, yang sakit ini Pakdenya lho. Pakde yang udah bantuin segala macam buat dia lho. Pakde yang seharusnya ndak sebegitunya juga bantuin ponakan (laki-laki, apalagi) -- yang seharusnya jadi tanggung jawab Bapak mereka sendiri (ini yang penting, Bapak kandungnya aja masih hidup kok)
Sudahlah. Capek kalo marah-marah. Marah dalam hati apalagi.
Dasar, setan! Pinternya dia bikin saya kesetanan. Astagfirullah.
Sekarang, alhamdulillah Bapak saya sudah dirumah. Sudah ndak dirumah sakit yang (menurut saya) tidak mendukung pasiennya untuk sembuh dari sakit. Walaupun kondisinya belum sepenuhnya pulih.
Tulisan lama yang sudah 3 tahun hanya jadi draft saja.
Komentar