Langsung ke konten utama

Being a Foster

Hai..
Akhirnya, setelah sekian bulan saya menghilang. Mencoba sembunyi dari kerasnya hingar bingar kehidupan, saya memutuskan untuk kembali berjalan..
Yaa. Beberapa bulan terakhir dalam tahun ini memang termasuk bulan yang berat bagi kami, saya dan Ibuk saya. Bapak saya, satu-satunya lelaki di rumah; satu-satunya lelaki yang pernah masuk kamar saya untuk memasangkan selimut di kala saya tertidur dan pasrah digigit nyamuk; satu-satunya lelaki yang sabar menghadapi saya, anak perempuannya; telah pergi. Meninggalkan dunia. Meninggalkan kami berdua.

Terkadang; bahkan sampai sekarang; mencoba dan memilih untuk ikhlas sungguh tidak mudah. Bapak saya, lelaki yang saya mimpikan untuk menikahkan saya kelak, harus pergi lebih dulu.
Di fase ini, saya sering menangis.
Bapak saya punya beberapa keponakan, yang dalam masa pernikahan mereka, Bapak selalu diminta untuk menjadi saksi, karena Bapak saya adalah lelaki tertua di keluarga mereka. Dan mungkin, Bapak saya akan berpikir dan mungkin mempunyai keinginan yang sama dengan saya; menjadi wali nikah saya. Kelak.
Sayang, Allah belum mengizinkan.

Setelah sekian bulan Bapak pergi, kami berdua; saya dan Ibuk saya; mencoba untuk tetap baik-baik saja. Tapi, baiknya kami berbeda ketika kami masih bertiga. Seperti kutipan Kharis, "Sanggup, tetapi kurang indah. Seperti bernafas, tetapi kurang lega". Begitulah kira-kira.


Kembali ke dunia sekarang :)
Beberapa bulan belakangan ini, saya lagi seneng sama kucing. Melihat tingkah laku lucu kucing di video instagram, facebook, dan youtube kadang memang menjadi semacam morphin buat saya. Paling tidak, saya bisa tertawa ditengah kerasnya tekanan kehidupan, haha..
Sampai pada akhirnya, saya dipertemukan dengan kucing kecil di dekat kantin mantan kampus saya dulu.
Kucing Kecik
Kucingnya kecil banget. Induk sama sodaranya ndak keliatan. Suaranya sukses bikin retak hati.
(((retak hati)))
Iye. Hati ogut emang lagi rapuh (maklum masih habis patah hati banget, halah), gampang retak banget. Bahkan sama suara kucing pun.
Udah dikasih susu, walo jujur saya juga ndak begitu tau persis, apakah tindakan saya ini bener atau salah. Tujuannya cuman satu, Si Kucing Kecik ini ndak kelaperan. Tapi, Si Kucing Kecik ndak mau minum. Udah dikasih ke mulutnya juga ndak mau :(
Sampai akhirnya saya mau pulang pun, Si Kucing Kecik ndak mau minum. Sedih dong. Dia ngikut aja kemana saya pergi. Pengin bawa pulang, apa daya Mamak tak mengizinkan.

Kehancuran hati makin menjadi pas liat share video dari temen tentang Kucing Kecik di jalanan. Videonya bisa dilihat di sini :(
Saya sampai nangis beneran :(

Beberapa hari dari kejadian itu, saya pun berniat untuk memulai kebiasaan baru, seperti saran dari Kakak Tingkat saya, dengan membawa makanan kucing di setiap saya bepergian. Banyak yang menyarankan untuk membawa makanan sejenis Whiskas yang ukuran sachet dengan kisaran harga Rp 5000an. Yang kondisinya basah (setau saya sih).
Wishkas untuk Kucing Kecik

Tetapiii, setelah saya menanyakan ke beberapa orang yang ahli di dalam masalah perkucingan, menyarakankan saya untuk membeli makanan kucing yang kondisi kering. Dengan beberapa alasan, diantaranya:
1. Jenis merk-nya lebih banyak dan ada yang tidak mengandung pork;
2. Lebih ekonomis, karena bisa dibeli per kilo;
3. Makanan kering tidak mudah berbau. Dan lebih "bersih" jika dibawa kemana;
4. Masa kadaluarsanya lebih lama.

Berbekal petunjuk dan saran dari teman saya, akhirnya saya memutuskan untuk membeli makanan yang ukurannya per kilo. Beberapa merk-nya ada Cuties, Maxi, Better, dan Universal. Dan, kemudian saya taruh di botol bekas air mineral, biar ndak tumpah-tumpah.
Selain gampang dibawa kemana-mana dan plastic-less, lebih praktis juga sih. Selain itu juga, setiap pagi, saya taruh di stereofoam untuk Empus yang tiap hari lewat ke rumah :D

Logistik Buat Kucing Kecik

Sarapan buat Kucing Kecik
Nah. Ternyata, beberapa kakak tingkat saya juga demen sama Kucing. Dan atas saran dari mereka pula, saya kemudian memutuskan untuk menjadi Foster, semacam Orang Tua Asuh untuk Si Empus.
Dan ini sudah jalan bulan kedua menjadi Foster :D

Alasannya menjadi Foster, karena ini jalan tengah dari permasalahan yang ada. Hahaha.. Menjadi jalan tengah untuk saya yang punya sembilan ekor burung dirumah tetapi suka sama kucing :D :D
Mamak dan almarhum Bapak saya sebenernya suka sama Kucing. Dulu kami punya banyak kucing dirumah. Tapi, karena di rumah kami ada burung, Si Kucing suka banget gangguin. Gemes kali ya, kenapa burung bisa terbang dan kucingnya ndak -__-
Bahkan ada burung yang mati ntah karna (nasib apesnya) kucing atau memang karna takdir. Sampai sejak itu, pantang hukumnya ada kucing dirumah.
Nah tapi, setelah basa-basi dengan Ibuk, ya semacam minta persetujuan kalo teras depan rumah akan sedikit bertambah kotor dengan adanya makanan kucing saya, saya pun menyelipkan "Nabi Muhammad kan juga suka kucing, Buk", akhirnya Ibuk saya mengizinkan, hehe..

Fokusnya saya sih lebih ke Kucing Kampung yaa. Karna, menurut saya, Kucing kampung jauh lebih lucu. Selain itu, udah banyak kucing ras yang memang lebih mahal dan lebih cantik (secara kucing ras).

Kalo bukan saya yang memperhatikan Kucing Kampung ini, siapa lagi? *kalimatnya asik kan? Haha..
Kucing di Rektorat :D

Tapiiiii, tetep hati-hati yah buat yang gampang gemesan sama Kucing. Apalagi Kucing yang ndak dirawat. Setelah megang kucing, biasakan dan harus wajib 'ain cuci tangan buat membersihkan dan menghilangkan kuman. Pokoknya, kesehatan tetep harus menjadi prioritas utama.
Well. Sekian dulu.

I love you, Buntelan Bulu :3

Komentar