"Tadi kenapa ndak masuk?"
"Ndakpapa, ketinggalan kereta. Hari ini cuman ada kelas pagi. Kenapa?"
"Ndakpapa.."
Itulah percakapan singkat kita tadi, beberapa menit yang lalu. Dimana ketika membaca namamu dalam display, saya dengan segera bilang "Haloo", tanpa berpikir ini dan itu.
Suara kamu yang sudah beberapa minggu tidak masuk di telingaku. Namun mataku masih saja "berjalan" melihat semua jejaring sosialmu.
Kepo!
Iya, saya kepo.
Entahlah. Saya pun ndak mengerti. Sebagai manusia, saya hanya mencoba berusaha. Mencari seseorang yang saya harap menjadi Imam saya, nanti.
Sayapun tau, saya terlalu egois. Meninggikan ego dengan berkata "tidak", ketika kamu menuntut status, tetapi saya seakan ndak mau jauh dari kamu.
Kadang, saya berpikir. Musti bagaimana jalannya. Supaya, saya, perempuan yang sedang berusaha memperbaiki diri ini, yang masih sesekali pakai celana setiap keluar rumah; dengan tidak setuju status "pacaran", tetapi bisa menemukan dan mengenal sosok laki-laki yang menjadi suami saya, nanti.
Saya jadi ingat, kurang lebih setahun yang lalu, teman saya pernah berkata begini,
"Aku memang ndak setuju sama konsep pacaran, Dina. Tetapi di jaman sekarang ini, kita 'kan juga ndak mau nyari suami tapi kita ndak kenal bagaimana pribadi dan sikap dia sehari-hari".
"Kamu sama Mas itu pacaran, Mbak?", tanya saya. Penasaran.
"Ndak. Kami ndak pacaran. Kami ndak ada ikatan. Tapi, antara aku sama dia udah ada komitmen untuk serius, kalo kami akan menikah, nanti".
Dan memang sih, Insya Allah apa yang dia katakan dulu, sebentar lagi akan terjadi. Agustus tahun ini, Insya Allah teman saya dan calonnya akan menikah. Mereka membuktikan apa yang dulu mereka katakan.
Tapi, ketika konsep tersebut ingin saya terapkan, saya gagal. Karena kamu lebih memilih pergi.
Dan siang ini, ditengah perbincangan singkat di telepon, setelah sekian lama saya rindu ingin ngobrol santai seperti dulu yang pernah kita lakukan, kamu sukses membuat hati saya remuk redam.
"Ndak usah ngarep sama aku lagi ya", kurang lebih begitu katamu.
"Aku udah suka sama orang lain", lanjut kamu.
"Ya, seperti yang pernah kamu bilang dulu..".
Saya memang pernah bilang, kalau memang kita jodoh, pasti ketemu. Karna saya tidak tau lagi bagaimana harus menjawab semua pertanyaan dan permintaan kamu waktu itu.
Namun hari ini, ingin rasanya saya menarik kata-kata itu.
"Ndakpapa, ketinggalan kereta. Hari ini cuman ada kelas pagi. Kenapa?"
"Ndakpapa.."
Itulah percakapan singkat kita tadi, beberapa menit yang lalu. Dimana ketika membaca namamu dalam display, saya dengan segera bilang "Haloo", tanpa berpikir ini dan itu.
Suara kamu yang sudah beberapa minggu tidak masuk di telingaku. Namun mataku masih saja "berjalan" melihat semua jejaring sosialmu.
Kepo!
Iya, saya kepo.
Entahlah. Saya pun ndak mengerti. Sebagai manusia, saya hanya mencoba berusaha. Mencari seseorang yang saya harap menjadi Imam saya, nanti.
Sayapun tau, saya terlalu egois. Meninggikan ego dengan berkata "tidak", ketika kamu menuntut status, tetapi saya seakan ndak mau jauh dari kamu.
Kadang, saya berpikir. Musti bagaimana jalannya. Supaya, saya, perempuan yang sedang berusaha memperbaiki diri ini, yang masih sesekali pakai celana setiap keluar rumah; dengan tidak setuju status "pacaran", tetapi bisa menemukan dan mengenal sosok laki-laki yang menjadi suami saya, nanti.
Saya jadi ingat, kurang lebih setahun yang lalu, teman saya pernah berkata begini,
"Aku memang ndak setuju sama konsep pacaran, Dina. Tetapi di jaman sekarang ini, kita 'kan juga ndak mau nyari suami tapi kita ndak kenal bagaimana pribadi dan sikap dia sehari-hari".
"Kamu sama Mas itu pacaran, Mbak?", tanya saya. Penasaran.
"Ndak. Kami ndak pacaran. Kami ndak ada ikatan. Tapi, antara aku sama dia udah ada komitmen untuk serius, kalo kami akan menikah, nanti".
Dan memang sih, Insya Allah apa yang dia katakan dulu, sebentar lagi akan terjadi. Agustus tahun ini, Insya Allah teman saya dan calonnya akan menikah. Mereka membuktikan apa yang dulu mereka katakan.
Tapi, ketika konsep tersebut ingin saya terapkan, saya gagal. Karena kamu lebih memilih pergi.
Dan siang ini, ditengah perbincangan singkat di telepon, setelah sekian lama saya rindu ingin ngobrol santai seperti dulu yang pernah kita lakukan, kamu sukses membuat hati saya remuk redam.
"Ndak usah ngarep sama aku lagi ya", kurang lebih begitu katamu.
"Aku udah suka sama orang lain", lanjut kamu.
"Ya, seperti yang pernah kamu bilang dulu..".
Saya memang pernah bilang, kalau memang kita jodoh, pasti ketemu. Karna saya tidak tau lagi bagaimana harus menjawab semua pertanyaan dan permintaan kamu waktu itu.
Namun hari ini, ingin rasanya saya menarik kata-kata itu.
Komentar