Langsung ke konten utama

13.12.14

berpisah /ber·pi·sah/ v 1 bercerai (tidak berhubungan, tidak rapat; tidak berdampingan, dsb): ~ untuk selama-lamanya, meninggal; di depan terminal bus mereka ~ , kembali ke rumahnya masing-masing; ia sudah lama ~ dng suaminya; mengucapkan selamat ~ , mengucapkan selamat pd waktu hendak meninggalkan seseorang; hidup ~ , hidup yg tidak tinggal dl satu rumah lagi (bagi suami istri); belum bercerai; 2 berjauhan; berjarak (berantara): kedua kota itu letaknya ~ beratus-ratus mil;


Ada lelaki, ada perempuan.
Ada baik, ada buruk.
Ada awal, pasti ada akhir.
Begitu seterusnya. Dan memang begitulah seharusnya. Semuanya ada pasangannya.
Termasuk, aku dan kamu, misalnya.
Dulu.
Beberapa belas jam yang lalu.

Minggu kedua bulan Desember.
Hampir seharian aku tidak mendengar dan menanyakan kabar kepadamu.
Yang biasanya barang sejam atau berapa jam tidak ada kabar, aku bisa uring-uringan. Begitupun sebaliknya.
Entah kamu yang sedang sibuk dengan urusanku, ataupun aku yang sibuk dengan urusanku.

Dulu.
Ketika memang masih ada aku dan kamu.
Tanpa diminta, kita akan saling memberikan kabar dengan sendirinya.
Menceritakan apa yang memang patut diceritakan.
Kadang berakhir tawa, kadang berujung debat yang tak berkesudahan.
Walaupun akhirnya, kita akan tetap baik-baik saja.
Itu dulu.
Beberapa belas jam yang lalu.
Sebelum kamu bilang, ingin berhenti; mengakhiri yang selama ini sudah kita jalani.

Pertanyaan yang sering aku tanyakan, dan bahkan mungkin sudah kamu hapalkan; tidak lagi berani aku ajukan.
Menghubungi kamu duluan pun aku sungkan.

Ketika menurutku ini terlalu cepat, dan di waktu yang sungguh tidak tepat.
Mengingat kondisi orang tuaku yang belum begitu sehat, dan aku sangat membutuhkan dukungan dan semangat, kamu malah lebih memilih undur diri.
Meninggalkan aku seorang diri.

Tanggal 17 Desember, setahun yang lalu, kita pergi ke Djendelo Koffie.
Semacam "dating" yang tidak terencana. Karena kita sengaja pergi pagi sekali karena jadwal kuliah kita sama-sama kosong. Dan ternyata, kafe-nya buka tengah hari.

Tanggal 25 Desember, setahun yang lalu, untuk pertama kalinya kita nonton bioskop berdua.
Dan ternyata, itu juga jadi acara nonton bioskop kita yang terakhir.

Tanggal 5 Desember tahun ini, mungkin, terakhir kamu datang kesini.
Karna sehabis itu mungkin kamu tidak akan lagi mau kesini.

Tetapi,
Mungkin saja, semalam adalah waktu yang tepat menurut kamu.
Daripada kamu, aku, kita berdua, sama-sama merasakan tidak nyaman yang tidak berkesudahan.
Sama-sama ragu akan satu sama lain, mungkin.
Jadi, menurut kamu, lebih baik, tadi malam adalah waktu yang tepat.

Minggu kedua, bulan Desember.
Sembilan belas jam yang lalu.
Diamku yang entah berapa lama, tidak juga merubah apapun keputusanmu.
Karena dengan diam maupun tidak, aku merasa tidak dapat merubah keadaan dan keputusan yang sudah kamu buat.
Posisiku sudah terdesak. Aku terkondisi untuk tidak bisa menolak, dan berkata "tidak".

Meninggalkan.
Ya, aku maklum akan hal itu.
Kau lebih memilih untuk itu.
Dari awal, prinsip kita sudah berbeda.
Jahatnya, aku masih membiarkanmu berusaha untuk mencoba.
Seharusnya, aku harus menegaskan kepadamu, bahwa aku tidak bisa.
Mungkin, rasa kita memang sama, hanya cara menjalankannya saja yang berbeda.
Dan masing-masing dari kita sama-sama tidak bisa menerima.

Maaf atas banyak salah yang sudah dilakukan.
Sikap yang sering tidak menyenangkan.
Ucapan yang sering menyakitkan.

Terima kasih atas banyak waktu yang sudah diberikan.

Kenangan yang mungkin tidak akan hilang.
Kebersamaan yang selalu kita habiskan.
Dan kesempatan yang selama ini sudah amat banyak diberikan.
Terima kasih banyak, kamu :)

You always call me with this 

Tamagotchi, kembaran sama punya kamu di Hari Kartini :)
Jersey ManCity, yang harusnya bisa dipake barengan :)

Komentar